IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Disusun Oleh : Kelompok 4
1. Muhammad Fathurohman
2. ENy
3. Fitri Lestari
4. Gadis Tri Wahyu Pamungkas
5. Indah Khajarisna
6. Ika S
AKADEMI KEPERAWATAN YAPPI SRAGEN
TAHUN AKADEMIK 2015/ 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia, manusia
tidak akan luput dari sehat dan sakit. Pada saat manusia sehat, tubuh manusia
akan berjalan stabil, tidak ada gangguan akan tetapi pada saat kita dalam
keadaan sakit seluruh tubuh kita tidak akan stabil. Oleh karena itu dalam hal
ini perawat sangat dibutuhkan untuk membantu manusia untuk menjadi stabil
kembali yaitu menjadi sehat. Oleh karena itu juga perawat harus mengerti
tentang proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosis, intervensi,
implementasi hingga evaluasi. Dalam hal ini kami hanya menekankan pada proses
implementasi keperawatan. Setiap perawat itu berbeda-beda dalam proses
penanganan dalam bekerja. Di dalam perbedaan ini seorang perawat bisa
mempengaruhi implementasinya kepada pasien. Oleh karena itu kami mencoba
meluruskan supaya khususnya para mahasiswa yang membaca makalah ini menjadi
lebih mengerti.
2. Tujuan
- Mendiskusikan perbedaan antara protokol dan peraturan tetap
2. Menjelaskan hubungan antara
implementasi dengan proses diagnostik keperawatan
- Menjelaskan hubungan antara berpikir kritis dan pemilihan intervensi keperawatan
- Mengenal kegiatan persiapan yang dilakukan sebelum implementasi
- Mendiskusi langkah revisi rencana perawatan sebelum melaksanakan implementasi
- Menjelaskan tiga keterampilan implementasi
- Mendeskripsikan dan membandingkan antara tindakan keperawatan langsung dan tidak langsung
- Memilih intervensi yang sesuai untuk klien
3. Manfaat
- Untuk mengetahui hubungan antara implementasi dengan proses diagnostik keperawatan
- Untuk mengetahui perbedaan antara protokol dan peraturan tetap
- Untuk mengetahui hubungan antara berpikir kritis dan pemilihan intervensi keperawatan
- Untuk mengetahui kegiatan persiapan yang dilakukan sebelum implementasi
- Untuk mengetahui langkah revisi rencana perawatan sebelum melaksanakan implementasi
- Untuk mengetahui tiga keterampilan implementasi
- Untuk mengetahui deskripsi dan perbandingan antara tindakan keperawatan langsung dan tidak langsung
- Untuk mengetahui intervensi yang sesuai untuk klien
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat
dari proses keperawatan yang dimulai setelah perawat menyusun rencana
keperawatan. Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang
dihadapi ke status kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil
yang diharapkan(Gordon, 1994, dalam Potter & Perry, 1997).Intervensi
keperawatan merupakan bentuk penanganan yang dilakukan oleh perawat berdasarkan
pertimbangan pengetahuan klinis yang bertujuan meningkatkan hasil perawatan
klien (Bulechek, Butcher, dan Dochterman 2008).
2.
Tujuan Implementasi
1.
membantu klien untuk mencapai tujuan yang diinginkan
2.
mencakup dalam peningkatan kesehatan
3.
mencakup pencegahan penyakit
4.
mencakum pemulihan kesehatan
5.
memfasilitasi klien
3.
Proses Berpikir Kritis dalam Implementasi
Sebelum mengimplementasikan
intervensi keperwatan, gunakan pemikiran kritis untuk menentukan ketepatan
intervensi terhadap situasi klinis. Walaupun implementasi telah direncanakan,
perawat tetap berkewajiban melakukan penilaian sebelum melaksanakan
implementasi tersebut, karena konsisi klien dapat berubah dalam hitungan menit.
Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang dipertimbangkan saat pengambilan
keputusan tentang implementasi:
- Tinjau ulang segala kemungkinan intervensi keperawatan yang sesuai dengan masalah klien
- Tinjau ulang semua kemungkinan konsekuensi pada setiap kemungkinan intervensi keperawatan
- Pertimbangkan peluang terjadinya kemungkinan konsekuensi
- Buat keputusan tentang manfaat dari konsekuensi bagi klien
4.
Standar Intervensi Keperawatan
Terdapat sistem yang menyediakan
standar intervensi bagi beberapa masalah kesehatan, sehingga perawat dapat
menetapkan intervensi secara lebih cepat dan mudah. Jika standar tersebut
berbasis pada bukti, maka perawat lebih cenderung memberikan intervensi klinis
yang efektif untuk meningkatkan hasil perawatan klien. Intervensi
terstandardisasi, tersedia dalam bentuk pedoman klinis atau protocol, petunjuk
pelaksanaan dan intervensi Nursing Interventions Classification (NIC).
4.1 Pedoman dan Protokol Praktis
Klinis
Suatu pedoman klinis atau protocol
merupakan pedoman yang mengarahkan keputusan dan intervensi untuk masalah
kesehatan tertentu. Pedoman ini disusun berdasarkan pengkajian bukti ilmiah
terbaru dan membantu penyelenggara pelayanan kesehatan dalam mengambil
keputusan untuk kondisi klinis spesifik (Nasional Guideline Clearinghouse, NGC,
2006). Contoh pedoman praktik klinis yang disusun oleh kelompok kesehatan nasional
adalah pedoman yang dikeluarkan oleh Nasional Institutes of Helath dan Nasional
Guideline Clearinghouse. Pedoman ini tersedia bagi siapapun yang ingin
mengadopsi bimbingan yang berbasis pada bukti bagi klien dengan masalah
kesehatan spesifik. Contohnya adalah pedoman berbasis bukti untuk mencegah
penyakit pada wanita, manajemen diabetes tipe 2, dan pencegahan, deteksi,
evaluasi, dan terapi hipertensi (NGC, 2006). Salah satu sumber yang baik
pedoman praktik keperawatan adalah Goronological Nursing Interventions
Research Center dari University of Iowa. Pusat penelitian tersebut memiliki
pedoman klinis untuk kondisi delirium dan kebingungan akut, memandikan individu
yang menderita demensia, pencegahan kekerasan pada lansia, dan pencegahan
terjadinya dekubitas (GNIRC, 2006).
4.2 Petunjuk Pelaksanaan
Petunjuk pelaksanaan (standing
orders) merupakan dokumen yang berisikan perintah pelaksanaan terapi rutin,
pedoman pengawasan, dan/atau prosedur diagnostic untuk klien tertendu dengan
masalah klinis tertentu pula. Perintah tersebut mengarahkan pelayanan klien
pada berbagai tatanan klinis. Petunjuk pelaksanaan biasanya ditemukan pada
tatanan perawatan kritis ataupun unit di mana kebutuhan klien berubah dengan
cepat dan membutuhkan perhatian sesegera mungkin.
Contoh petunjuk pelaksanaan adalah
keterangan tentang pemakaian obat tertentu untuk disritmia sepertiLidokain
untuk propranolol. Setelah memeriksa klien dan mengidentifikasi irama jantung
yang tidak teratur, perawat unit kritis memberikan obat tersebut tanpa memberitahu
dokter terlebih dahulu. Petunjuk pelaksanaan awal berasal dari dokter yang
melindungi tindakan perawat tersebut. Petunjuk pelaksanaan juga umum ditemukan
pada tatanan kesehatan komunitas, dimana perawat sulit menghubungi dokter
dengan segera. Petunjuk pelaksanaan dan protokol klinis memberikan perlindungan
hukum bagi perawat untuk melakukan intervensi dengan tepat sesuai kebutuhan
klien.
4.3 Intervensi NIC (Nursing Interventions Classification)
Sistem NIC dirancang oleh University
of Iowa dan membantu pemisahan praktik keperawatan dari professional kesehatan
lainnya. Sistem ini memberikan standardisasi yang meningkatkan komunikasi
asuhan keperawatan pada berbagai tatanan dan perbandingan hasilnya. Dengan NIC,
perawat mempelajari intervensi yang disarankan untuk berbagai diagnosis
keperawatan sesuai kategori NANDA Internasional. Perawat yang mempelajari
berbagai aktivitas keperawatan untuk tiap intervensi NIC.
Standar klasifikasi
komprehensif dari campur tangan yang dilakukan perawat. Hal ini sangat
berguna bagi dokumentasi klinik, komunikasi sikap peduli yang mencakup
peraturan, hubungan antara data yang mencakup system dan peraturan, efektifitas
penelitian, ukuran produktifitas, evaluasi kompetisi, pembayaran kembali, dan
disain kurikular. Klasifikasi meliputi campur tangan yang dilakukan oleh
perawat pada kebutuhahan pasien, baik perseorangan dan kolaboratif semuanya
harus berupa keperawatan lansung dan tidak langsung. Sebuah campur tangan
didefinisikan sebagai perlakuan, berdasarkan pendapat dan pengetahuan, yang
dilakukan perawat untuk mempertimbangkan pasien atau klaen untuk berhasil dalam
tindakan keperawatan.
5.
Proses Implementasi
Persiapan proses implementasi akan
memasatkan asuhan keperawatan yang efesien, aman, dan efektif.
5.1 Pengkajian Ulang terhadap Klien
Pengkajian merupakan proses kontinu
yang terjadi setiap kali perawat berinteraksi dengan klien. Saat mengumpulkan
dan mengidentifikasi kebutuhan baru, perawat akan memodifikasi rencana
keperawatan. Selain itu, perawat juga memodifikasi rencana saat menentukan
kebutuhan kesehatan seorang klien. Langkah ini membantu perawat untuk
menentukan apakah tindakan keperawatan tersebut masih sesuai dengan kondisi
klien.
5.2 Meninjau dan Merevisi Rencana Asuhan Keperawatan yang
Ada
Setelah mengkaji ulang, lakukan
peninjauan pada rencana keperawatan, bandingkan data tersebut agar diagnosis
keperawatan menjadi valid, dan tentukan apakah intervensi keperawatan tersebut
masih menjadi yang terbaik untuk situasi klinis saat itu. Jika terjadi
perubahan status klien, diagnosis keperawatan dan intervensinya, lakukan
modifikasi rencana asuhan keperawatan. Modifikasi rencana perawatan tertulis
mencakup empat langkah sebagai berikut:
- Lakukan revisi data pada kolom pengkajian untuk menggambarkan status klien terkini. Berikan tanggal pada data baru sehingga anggota tim yang lain mengetahui waktu perubahan tersebut.
- Lakukan revisi pada diagnosis keperawatan. Hapus diagnosis keperawatan yang telah kehilangan relevansinya, tambah dan berikan tanggal pada diagnosis yang baru.
- Lakukan revisi pada intervensi sesuai dengan diagnosis dan tujuan keperawatan yang baru. Revisi ini harus menggambarkan status terkini klien.
- Tentukan metode evaluasi untuk menentukan apakah anda telah berhasil.
5.3 Mengorganisasikan Sumber Daya dan Menyampaikan Layanan
Sumber daya suatu fasilitas mencakup
peralatan dan personel yang memiliki keterampilan. Organisasi peralatan dan
personel akan membuat perawatan klien menjadi lebih tepat waktu, efisien, dan
penuh keterampilan. Persiapan pemberian asuhan juga meliputi persiapan
lingkungan dan klien untuk intervensi keperawatan.
5.3.1 Peralatan
Sebelum melakukan intervensi,
tentukan alat yang dibutuhkan dan periksan persediaannya. Sediakan peralatan
tambahan untuk mengatasi kemungkinan terjadi kesalahan, tetapi jangan
membukanya kecuali benar-benar dibutuhkan.
5.3.2 Personel
Sistem yang mengatur keperawatan
akan menentukan bagaimana personel keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien. Sebagai contoh, seorang perawat Registered Nurse (RN)
memiliki tanggung jawab yang berbeda di dalam model keperawatan tim
dibandingkan model keperawatan primer. Seorang perawat primer bertanggung jawab
untuk melayani klien selama dirawat inap. Seorang perawat tim bertanggung jawab
untuk melayani klien sesuai dengan giliran jaga. Dalam metode tim, perawat
bertanggung jawab dalam menentukan kapan melaksanakan suatu intervensi
atau mendelegasikannya kepada anggota lain.
5.3.3 Lingkungan
Lingkungan perawatan klien harus
aman dan kondusif bagi implementasi tarapi. Keamanan klien merupakan prioritas
pertama. Klien memperoleh keuntungan intirvensi terbaik saat lingkungannya
sesuai dengan kegiatan keperawatan.
5.3.4 Klien
Sebelum melaksanakan intervensi,
pastikan klien telah merasa nyaman secara fisik dan psikologis. Buat klien
merasa nyaman secara fisik walaupun saat ada gejala. Mulai setiap
intervensi dengan mengendalikan faktor lingkungan, menangani kebutuhan fisik,
menghindari interupsi, dan memosisikan klien dengan benar. Juga pertimbangkan
tingkat ketahanan klien, dan rencanakan aktiviotas dalam tingkah yang dapat
ditoleransi oleh klien.
5.4 Antisipasi dan Pencegahan Komplikasi
Resiko pada klien berasal dari
penyakit dan terapi. Sebagai perawat, awasi dan kenali resiko tersebut,
sesuaikan intervensi dengan situasi, evaluasi keuntungan terapi terhadap resiko
dan akhirnya mulailah tindakan pencegahan resiko. Perawat merupakan pihak
pertama yang mendeteksi perubahan kondisi klien. Pada penelitiannya, Benner
(1948) menunjukkan bahwa perawat ahli belajar mengantisipasi perburukan klien
sebelum tanda diagnostic yang mengonfirmasi hal tersebut timbul.
Pengetahuan perawat tentang
patofisiologi dan pengalaman dengan klien sebelumnya akan membantu mengenali
resiko komplikasi yang dapat terjadi. Pemeriksaan yang menyeluruh akan
menunjukkan tingkat dari resiko klien. Alasan ilmiah mengenai bagaimana
intervensi yang benar dapat mencegah komplikasi (misalnya alat penghilang
tekanan, reposisi, atau perawatan luka) akan membantu anda memilih tindakan
terhadap klien.
5.5 Mengenali Area Asistensi
Sebelum memulai perawatan, tinjaulah
rencana untuk menentukan kebutuhan bantuan dan jenis yang dibutuhkan. Sebagai
contoh, jika melayani klien dengan imobilitas dan berat badan berlebihan,
seorang perawat akan membutuhkan personel tambahan untuk membantu klien
berganti posisi dengan aman. Pastikan jumlah dan waktu bantuan yang dibutuhkan
sebelumnya. Diskusikan kebutuhan akan bantuan dengan perawat lainnya atau
asisten.
Pada situasi dimana perawat diminta
memberikan obat baru, mengoperasikan peralatan baru, atau melaksanakan suatu
prosedur yang tidak dikenali, ikuti langkah berikut:
- Cari pengetahuan yang dibutuhkan
- Kumpulkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk prosedur tersebut.
- Pastikan kehadiran perawat-perawat yang pernah melakukan prosedur tersebut dengan baik dan benar untuk menyediakan bantuan dan bimbingan.
6.
Keterampilan Implementasi
Perawat membutuhkan tiap jenis
keterampilan untuk mengimplementasikan intervensi keperawatan langsung dan
tidak langsung.
6.1 Keterampilan Kognitif
Keterampilan kognitif meliputi
aplikasi pemikiran kritis pada proses keperawatan. Untuk melaksanakan
intervensi dibutuhkan pertimbangan yang baik dan keputusan klinis yang jelas.
Perawat harus berfikir dan mengantisipasi secara kontinu sehingga dapat
menyesuaikan perawatan berbagai konsep dan menghubungkannya sambil mengingat
kembali takta, situasi, dank lien yang pernah anda temui sebelumnya (Di
Vito-Thomas, 2005).
6.2 Keterampilan Interpersonal
Keterampilan ini dibutuhkan untuk
terwujudnya tindakan keperawatan yang efektif. Perawat membangun hubungan
kepercayaan, menunjukkan perhatian dan berkomunikasi dengan jelas. Komunikasi
interpersonal yang baik sangat penting untuk memberikan informasi, pengajaran,
dan dukungan pada klien dengan kebutuhan emosional.
6.3 Keterampilan
Psikomotor
Keterampilan psikomotor membutuhkan
integritas antara aktivitas kognitif dan motorik. Sebagai contoh, saat
melakukan penyuntikan, perawat harus memahami anatomi dan farmakologi
(kognitif), serta menggunakan koordinasi dan presisi untuk melakukan
penyuntikan dengan tepat (motorik). Keterampilan ini sangat penting untuk
membangun kepercayaan klien.
7.
Perawatan Langsung
Perawat menyediakan berbagai bentuk
perawatan langsung, yaitu penanganan yang dilakukan melalui interaksi dengan
klien. Cara interaksi perawat akan menentukan keberhasilan perawatan langsung
tersebut. Seluruh perawatan langsung membutuhkan praktik yang kompeten dan
aman.
7.1 Kegiatan Harian
Kegiatan harian merupakan kegiatan
yang dilakukan pada hari biasa, termasuk mobilitas, makan, berpakaian, mandi,
menggosok gigi, dan mengurus diri. Beberapa klien cenderung membutuhkan bantuan
dalam kegiatan harian. Saat hasil pengkajian memperlihatkan bahwa klien sedang
mengalami kelelahan, keterbatasan mobilitas, kebingungan, dan nyeri, maka
sangat mungkin mereka membutuhkan bantuan kegiatan harian.
7.1.1 Kegiatan Harian Instrumental
Kegiatan harian instrumental
meliputi aktivitas seperti berbelanja, menyiapkan makanan, menulis cek
pembayaran, dan mengkonsumsi obat harian. Perawat pada lingkungan rumah dan
komunitas sering membantu klien dalam beradaptasi dengan kegiatan harian
instrumental.
7.2 Teknik Perawatan Fisik
Teknik perawatan fisik rutin
dilakukan saat merawat klien. Contohnya adalah mengganti posisi, melakukan
prosedur invasive, memberikan obat, dan meningkatkan rasa nyaman bagi klien.
Teknik fisik melibatkan pelaksanaan prosedur keperawatan (memasang kateter
urine, latihan gerak, dan penyuntikan) secara aman dan kompeten. Metode umum
untuk melakukan teknik perawatan fisik yaitu: melindungi diri dan klien dari
cedera, menerapkan praktik pengendalian infeksi, mengorganisasi klien, dan
mengikuti pedoman praktik.
7.3 Tindakan Penyelamatan Jiwa
Tindakan penyelamatan jiwa merupakan
teknik perawatan fisik yang digunakan saat kondisi fisiologis atau psikologis
klien berada dalam ancaman. Tujuan tindakan penyelamatan jiwa adalah
mengembalikan keseimbangan fisiologis atau psikologis. Tindakan ini dapat
berupa pemberian obat darurat, resusitasi jantung paru, intervens untuk
melindungi klien yang kasar atau kebingungan, dan memperoleh konseling segera
dari sentra krisis bagi klien dengan ansietas berat. Jika perawat yang belum
berpengalaman menghadapi keadaan darurat, tindakan keperawatan yang tepat
adalah memanggil professional yang berpengalaman.
7.4 Konseling
Konseling merupakan metode pelayanan
langsung yang membantu klien menggunakan proses pemecahan masalah untuk
mengenali dan menangani stress dan memfasilitasi hubungan interpersonal.
Konseling melibatkan dukungan emosional, intelektual, spiritual, dan
psikologis.
7.5
Pengajaran
Pengajaran merupakan tanggung jawab
penting bagi perawat yang penting. Konseling berhubungan erat dengan
pengajaran. Keduanya melibatkan keterampilan berkomunikasi untuk menciptakan
perubahan pada klien. Perawat mengajar untuk memberikan prinsip, prosedur, dan
teknik layanan kesehatan yang benar dan menginformasikan klien tentang status
kesehatan mereka. Contoh umum dari topik pengajaran adalah jadwal pemberian
obat, pembatasan aktivitas, kegiatan promosi kesehatan (misalnya: diet dan
olahraga), dan pengetahuan tentang penyakit dan implikasinya.
7.6 Mengendalikan Reaksi Negatif
Reaksi negatif merupakan efek yang
berbahaya dan tidak disengaja dari suatu obat, pemeriksaan diagnostic, atau
intervensi terapeutik. Reaksi negatif dapat terjadi setelah berbagai intervensi
keperawatan. Oleh karena itu, selalu melakukan antisipasi dan ketahui reaksi
yang dapat terjadi. Tindakan keperawatan dalam mengendalikan reaksi negatif
bertujuan menurunkan atau melawan reaksi tersbut.
Saat memberikan intervensi yang
diinstruksikan oleh dokter (misalnya: pemberian obat). Perawat harus mengetahui
efek samping obat tersebut. Setelah pemberian obat, perawat mengevaluasi klien
untuk melihat adanya reaksi negatif. Perawat mencatat reaksi tersebut,
menghentikan pemberian obat selanjutnya, dan berkonsultasi dengan dokter.
Perawat harus mengenali tanda dan gelaja dari suatu reaksi negative dan
memberikan intervensi pada waktu yang tepat.
7.7 Tindakan Preventif
Tindakan keperawatan preventif
mempromosikan kesehatan dan pencegahan penyakit untuk menghindari kebutuhan
pelayanan akut atau rehabilitatif. Pencegahan meliputi pengkajian dan promosi
potensi kesehatan klien, pemberian tindakan yang diresepkan (contoh:
imunisasi), pengajaran kesehatan, dan identifikasi faktor resiko dari suatu
penyakit dan/atau trauma.
8.
Perawatan Tidak Langsung
Perawatan tidak langsung merupakan
tindakan yang mendukung efektifitas intervensi perawatan langsung (Dochterman
dan Bulechek, 2003).
8.1 Mengkomunikasikan Intervensi Keperawatan
Setiap intervensi yang dilakukan
akan dikomunikasikan dalam bentuk tertulis maupun lisan. Perawat akan
mengkomunikasikan intervensi keperawatan secara lisan kepada professional
kesehatan lainnya. Komunikasi harus bersifat tepat waktu dan akurat karena
dapat terjadi kesalahan informasi, penggandaan intervensi, penundaan prosedur,
atau tidak terlselesaikannya suatu tugas akibat kesalahan komunikasi.
8.2 Mendelegasikan, Mengawasi, dan Mengevaluasi Pekerjaan
Anggota Staf Lainnya
Sesuai dengan sistem asuhan
keperawatan, perawat yang menyusun rencana keperawatan tidak melakukan seluruh
intervensi keperawatan tersebut. Beberapa aktivitas akan dikoordinasi dan
delegasikan kepada anggota tim kesehatan lainnya. Saat pendelegasian, perawat
yang memberikan tugas memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap
tugas dilaksanakan dengan tepat dan sesuai dengan standar pelayanan. Perawat
juga memiliki tanggung jawab untuk mendelegasikan intervensi kepada personel
yang kompeten secara langsung.
8.3 Mencapai Tujuan
Klien
Implementasi asuhan keperawatan
bertujuan memenuhi tujuan klien dan hasilnya. Menetapkan prioritas juga penting
dalam kesuksesan proses implementasi. Prioritas akan membantu anda
mengantisipasi dan mengurutkan intervensi keperawatan pada klien yang memiliki
banyak diagnosis keperawatan dan masalah kolaboratif. Cara lain untuk mencapai
tujuan adalah membantu klien tetap patuh pada rencana terapinya.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Implementasi merupakan tahap proses
keperawatan di mana perawat memberikan intervensi keperawatan langsung dan
tidak langsung terhadap klien. Selalu pikirkan terlebih dahulu ketepatan suatu
intervensi sebelum mengimplementasikannya. Pedoman klinis atau protokol
merupakan dokumen berbasis bukti yang membimbing keputusan dan intervensi untuk
masalah kesehatan tertentu. Saat mempersiapkan pelaksanaan intervensi, lakukan
pengkajian ulang pada klien, tinjau dan revisi rencana asuhan keperawatan yang
ada, organisasi sumber daya dan penyampaian layanan, antisipasi dan cegah
komplikasi, serta implementasikan intervensi tersebut.
Selama fase awal implementasi,
lakukan pengkajian ulang pada klien untuk menentukan apakah tindkaan
keperawatan yang diajukan masih sesuai dengan kondisi klien. Implementasi
asuhan keperawatan membutuhkan tambahan pengetahuan, keterampilan keperawatan,
dan sumber daya personel. Sebelum memulai intervensi, pastikan klien merasa
nyaman secara fisik dan psikologis. Untuk mengantisipasi dan mencegah
komplikasi, perawat mengenali resiko pada klien, menyesuaikan intervensi dengan
situasi, mengevaluasi keuntungan terapi dibandingkan resikonya dan memulai
tindakan pencegahan resiko. Implementasi intervensi keperawatan yang berhasil
membutuhkan keterampilan kognitif, interpersonal, dan psikomotor.
Metode yang digunakan untuk
memastikan ketepatan teknik perawatan fisik meliputi perlindungan perawat dank
lien dari cedera, menggunakan praktik pengendalian infeksi yang sesuai, tetap
terorganisasi dan mengikuti petunjuk praktik. Konseling merupakan metode
perawatan langsung yang membantu klien menggunakan pemecahan masalah untuk
mengenali dan mengatasi stress serta memfasilitasi hubungan interpersonal.
Tindakan keperawatan preventif
meliputi pemeriksaan dan promosi dari potensi kesehatan klien, pemberian
tindakan yang diresepkan (contoh: imunisasi), pengajaran kesehatan, dan
identifikasi faktor resiko suatu penyakit, dan/atau trauma. Untuk melakukan
suatu prosedur keperawatan, anda harus mengetahui prosedur tersebut, frek
uensi, langkah, dan hasil yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bulechek, G.M., Butcher,H.K., Dochherman,J.M.,2008. Nursing
Intertvention Classification (NIC) ; 5th edition. Mosby Elsevier
Perry, Potter.2010.Fundamental keperawatan buku 1 edisi 7.Jakarta:Salemba
Medika
Potter-Perry. 2011. Basic Nursing. 7th
edition. Mosby Elsevier
Purwanto. Edi. 2011. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.